Data yang dikumpulkan dari berbagai buku maupun turi-turian, bahwa Raja Silahisabungan mempunyai 2(dua) isteri.
Isteri pertama adalah Pinggan Matio boru Padang Batangari dan bermukim di Silalahi Nabolak dan isteri kedua adalah Milingiling boru Mangarerak.
Dari boru Pinggan Matio, Raja Silahisabungan memiliki tujuh (7) putra dan satu (1) putri. Sedangkan dari boru Milingiling, Silahisabungan memiliki seorang putra. Kedelapan putra Raja Silahisabungan dan seorang putri tersebut secara singkat dapat dijelaskan seperti dibawah ini.
Dari isteri pertama lahir sbb:
1. Haloho (Loho Raja)
2. Tungkir (Tungkir Raja)
3. Rumasondi (Sondi Raja)
4. Dabutar (Butar Raja)
5. Dabariba (Bariba Raja)
6. Debang (Debang Raja)
7. Pintubatu (Batu Raja)
8. Siboru Deang Namora.
Dari isteri kedua lahir satu putra yaitu:
1. Tambun(Tambun Raja)
1. Haloho (Loho Raja) menikah dengan boru tulangnya Rumbani boru Padang Batangari dan bermukim di Silalahi nabolak.Keturunannya sebagian pindah ke Paropo, Tolping, Pangururan, Parbaba. Haloho memiliki 3 putra yaitu : Sinaborno, Sinapuran, dan Sinapitu. Pada umumnya keturunannya memakai marga Sihaloho, dan hingga dewasa ini belum ada cabang marga ini.
2. Tungkir (Tungkir Raja) menikah dengan Pinggan Haomasan boru Situmorang dan bermukim juga di Silalahi nabolak. Pasangan ini juga memiliki 3 putra yaitu : Sibagasan, Sipakpahan dan Sipangkar. Keturunannya pada umumnya memakai marga Situngkir terutama Sibagasan dan Sipakpahan, sedangkan keturunan Sipangkar sebagian besar telah memakai Sipangkar sebagai marga.
3. Rumasondi (Sondi Raja) menikah dengan Nagok boru Purba Siboro. Pasangan ini juga bermukim di Silalahi nabolak. Keturunannya yaitu Rumasingap membuka perkampungan di Paropo.Rumasondi memiliki putra sbb : Rumasondi, Rumasingap, dan Rumabolon. Umumnya keturunannya memakai marga Rumasondi dan sebagaian memakai marga Silalahi (di balige) dan bahkan Rumasingap juga dipakai sebagai cabang marga. Demikian juga Doloksaribu, Nadapdap, Naiborhu, Sinurat, telah digunakan sebagai cabang marga dan masuk rumpun marga Rumasondi.
4. Dabutar (Butar Raja) menikah dengan Lagumora Sagala. Mereka juga tinggal di Silalahi Nabolak. Dabutar ini mempunyai tiga putra yaitu : Rumabolon, Ambuyak, dan Rumatungkup. Umumnya keturunannya memakai marga Sinabutar atau Sinamutar bahkan Sidabutar.
5. Dabariba Raja (Baba Raja) menikah dengan Sahat Uli boru Sagala. Mereka bermukim di Silalahi nabolak. Keturunannya memakai marga Sidabariba atau Sinabariba. Putranya berjumlah tiga yaitu : Sidabariba Lumbantonga, Sidabariba Lumbandolok, Sidabariba Toruan. Mereka ini pada umumnya memakai marga Sidabariba.
6. Debang (Debang Raja) menikah dengan Panamenan boru Sagala, juga bermukim di Silalahi nabolak. Keturunannya sebagaian menyebar ke Paropo. Debang Raja mempunyai 3 putra : Parsidung, Siari dan Sitao. Umumnya keturunannya memakai marga Sidebang atau Sinabang.
7. Pintu Batu (Batu Raja) menikah dengan Bunga Pandan boru Sinaga, juga tinggal di Silalahi nabolak. Memiliki 3 putra yaitu : Hutabalian, Lumbanpea, Sigiro. Keturunannya menggunakan marga Pintu Batu, tetapi keturunan Sigiro sebagian memakai marga Sigiro.
8. Tambun (Tambun Raja) adalah putra Raja Silahisabungan dari si boru Milingiling. Ketika masih remaja, Tambun meninggalkan Silalahi nabolak menemui ibu kandungnya di Sibisa Uluan. Tambun menikah dengan Pinta Haomasan boru Manurung dan bermukim di Sibisa. Dari Sibisa keturunannya berserak ke Huta Silombu, Huta Tambunan dan Sigotom Pangaribuan. Putra Raja Tambun berjumlah tiga orang yaitu : Tambun Mulia, Tambun Saribu, Tambun Marbun. Umumnya keturunannya memakai marga Tambun dan Tambunan, bahkan diantaranya memakai marga Baruara, Pagaraji, Ujung Sunge,Lumpan Pea.
Disamping marga-marga yang disebut di atas, Anak-anak Raja Silahisabungan dari isteri pertama memakai marga Silalahi. Sedangkan keturunan Tambun tetap menggunakan marga Tambun (oleh keturunan Tambun Uluan) atau Tambunan (oleh keturunan Tambun Koling).
PODA SAGU SAGU MARLANGAN
Poda sagu-sagu marlangan muncul karena munculnya pertengkaran antara Anak-anak Raja Silahisabungan dengan Si Raja Tambun yang mendapat perhatian lebih dari Ibunya Pinggan Matio dibandingakan anaknya yang lain, kemudian Raja Silahisabungan menyuruh Pinggan Mation menempa Sagu – sagu Marlangan berbentuk manusia yang ditaruh di kedalaman ampang ( Sejenis bakul). Kemudian SilahiSabungan memanggil seluruh putra putrinya dan Isterinya mengelilingi Sagu-sagu Marlangan dan kemudian menyampaikan pesan (WASIAT) yang isinya seperti dibawah ini :
HAMU ANAKKU NA UALU :
1. INGKON MASIHAHOLONGAN MA HAMU SAMA HAMU RO DI POMPARANMU, SISADA ANAK SISADA BORU NA SO TUPA MASIOLIAN, TARLUMOBI POMPARANMU NA PITU DOHOT POMPARAN NI SI RAJA TAMBUN ON.
2. INGKON HUMOLONG ROHAMU NA PITU DOHOT POMPARANMU TU BORU POMPARAN NI ANGGIMU SI RAJA TAMBUN ON, SUWANG SONGON I NANG HO RAJA TAMBUN DOHOT POMPARANMU INKON HUMOLONG ROHAM DI BORU POMPARAN NI HAHAM NA PITU ON.
3. TONGKA DOHONONMU NA UALU NA SO SAAMA SAINA HAMU TU PUDIAN NI ARI.
4. TONGKA PUNGKAON BADA MANANG SALISI TU ARI NA NAENG RO
5. MOLO ADONG PARBADAAN MANANG PARSALISIHAN DI HAMU, INGKON SIAN TONGA – TONGAMU MASI TAPI TOLA, SIBAHEN UMUM NA TINGKOS NA SOJADI MARDINKAN, JALA NA SO TUPA HALAK NA HASING PASAEHON.
Kemudian Raja Silahisabungan duduk dan menyuruh anak-naknya menjamah sagu – sagu marlangan itu tanda kesetiaan dan ikrar yang harus djunjung tingga. ke 8 anak Raja Silahisabungan menjamah Sagu – sagu marlangan itu dan berkata :” Sai dipargogoi Mulajadi Nabolon ma hami dohot pomparan nami mangulahon poda na nilehonmi amang,” kata mereka bergantian. Kemudian Raja Silahisabungan berkata, barang siapa yang melanggar wasiat ini seperti sagu – sagu marlangan inilah tidak berketurunan, ingkon mago jalan pupur.” Katanya.
BERITA KETURUNAN SIRAJA TAMBUN
Si Raja Tambun yang dinobatkan menjadi “Raja Boru “ di Sibisa dengan nama Raja Itano , tidak kembali lagi ke Silalahi Nabolak , Ia bersama Pintahaomasan br. Manurung tetap tinggal di Sibisa dan di berikan Tuhan 3 ( tiga ) orang anak laki – laki, yaitu : Tambun Mulia , Tambun Saribu dan Tambun Marbun . Tambun Mulia mempunyai 2 (dua ) anak laki – laki , yaitu : Tambun Uluan dan tambun Holing. Tambun Uluan tetap tinggal di Uluan, keturunannya memakai Marga Tambun. Tambun Holing pergi ke Tambunan sekarang dan mempunyai anak laki – laki 3 (tiga ) orang, Yaitu : Raja Ujungsunge, tuan Pagar Aji dan Datu Tambunan Toba. Seorang anak Tuan Pagar Aji, bernama Mata Sopiak pergi ke Angkola keturunannya memakai marga DAULAY (DAOLAE / DAHO LAE).
Datu Tambunan Toba mempunyai 3 (tiga) orang anak laki laki , yaitu Raja Baruara , Datu Gontam (Lumban Pea )dan Raja Parsingati (Lumban Gaol) Keturunan Tambun holing pada umumnya memakai marga Tambunan,dan banyak yang pergi ke Sigotom .
Menurut tradisi dan tarombo Siraja Tambun ,Tambun Saribu mempunyai 3 orang anak laki – laki, yaitu : Doloksaribu , Sinurat dan Nadapdap, tetapi Tambun Marbun belum jelas ketunannya. Menurut turasi dan tarombo Raja Silambungan , keturunan Siraja Bunga – bunga ( siraja Parmahan ) yang tinggal di hinalang Balige kembali membuat sagu – sagu marlangan di Onan Raja Tambunan untuk mengingat “ poda sagu – sagu marlangan “yang di buat Raja Silahisabungan di Silalahi Nabolak .
Dengan adanya turasi dan tarombo Siraja Tambun yang menyatakan Doloksaribu , Sinurat dan Nadapdap keturunan Tambun Saribu maka timbul permasalahan karena pada umumnya marga Doloksaribu, Sinurat dan Nadapdap mengaku keturunan Siraja Parmahan yang memakai marga Silalahi . Untuk memurnikan Poda sagu – sagu marlangan maka di anjurkan agar keturunan Siraja Parmahan memakai Silalahi
Free Porno Video Sex
Custom Search
Showing posts with label Pasar Latong. Show all posts
Showing posts with label Pasar Latong. Show all posts
Asal muasal tercipta nya nama marga Daulay tau nggak ???
Horas.. Daulay.
Menurut cerita yang saya dengar nih.. Memang dulu ada Perantau dari Tanah Toba namanya Parmata Sapihak. Dia merantau ke Selatan. Dan membawa beberapa kerabat. Parmata Sapihak lah yang menjadi penunjuk arah ke arah yang dituju. Perjalanan yang jauh membuat semua kerabat bingung dan terus bertanya. Mereka selalu menanyakan letak lokasi yang di tuju, apa maseh jauh atau udah dekat : "Dau do Lae? itu terus yang mereka tanyakan kepada Parmata Sapihak. Parmata Sapihak hanya bisa membalas dengan berkata : "Dau Lae. Karena perjalanan nya yang panjang dan melelahkan maka terjadilah terus menerus percakapan seperti itu. Maka dari itu nama Dau Lae melekat pada nama Parmata Sapihak. Dianggap sebagai gelar, karena sudah menunjukkan jalan/lokasi untuk bermukim (kampung) untuk mereka. Seiring jaman, nama
Dau Lae berganti menjadi Daulay seperti yang sekarang ini. Ini lah yang saya dengar cerita tentang asal muasal pemberian nama marga Daulay. Mungkin cerita ini maseh meragukan oleh apara, uda, ito sekalian. Tapi ini lah sekilas cerita, buat sekedar Info bagi kita semua.
Hormat Saya.
Kiriman: Fadlan Mahmud Daulay
Menurut cerita yang saya dengar nih.. Memang dulu ada Perantau dari Tanah Toba namanya Parmata Sapihak. Dia merantau ke Selatan. Dan membawa beberapa kerabat. Parmata Sapihak lah yang menjadi penunjuk arah ke arah yang dituju. Perjalanan yang jauh membuat semua kerabat bingung dan terus bertanya. Mereka selalu menanyakan letak lokasi yang di tuju, apa maseh jauh atau udah dekat : "Dau do Lae? itu terus yang mereka tanyakan kepada Parmata Sapihak. Parmata Sapihak hanya bisa membalas dengan berkata : "Dau Lae. Karena perjalanan nya yang panjang dan melelahkan maka terjadilah terus menerus percakapan seperti itu. Maka dari itu nama Dau Lae melekat pada nama Parmata Sapihak. Dianggap sebagai gelar, karena sudah menunjukkan jalan/lokasi untuk bermukim (kampung) untuk mereka. Seiring jaman, nama
Dau Lae berganti menjadi Daulay seperti yang sekarang ini. Ini lah yang saya dengar cerita tentang asal muasal pemberian nama marga Daulay. Mungkin cerita ini maseh meragukan oleh apara, uda, ito sekalian. Tapi ini lah sekilas cerita, buat sekedar Info bagi kita semua.
Hormat Saya.
Kiriman: Fadlan Mahmud Daulay
FORUM BAHASA MANDAILING & ANGKOLA – INDONESIA
Forum ini berawal dari aspirasi salah satu tokoh masyarakat mandailing yang berdomisili dijakarta atas kecintaanya dan jiwa kebatakannya khususnya Mandailing dan Angkola (Tapsel) sehingga forum ini terbentuk.
Forum bertujuan berbagi pikiran ide dan pandang pandangan mengenai Mandailing khususnya bahasa mandailing yang diperuntukkan bagi mereka yang keturunan Mandailing yang berada dijakarta, maupun daerah lain diindonesia dan juga dimancanegara.
Adat budaya yang selama ini terpendam mengajak semua kalangan untuk melestarikan budaya dan bahasa mandailing untuk mencari atau mencaritahu kekayaan bahasa mandailing yang selama ini mungkin saja kita kurang memahami..
Semoga apa yang menjadi pemikiran ini akan menjadi pemersatu dan memajukan masyarakat Mandailing dan keturunannya....
Horasss.... Horasss....
Jakarta, 14 Juni 2009
Damora Lubis
Pembina / Pendiri
Marwan Dalimunthe
Pengurus
Sjaiful A. Rangkuty
Pembina
Bahasamandailing@gmail.com
Jl. Raya Bintara No. 10 Jaksampurna, Bekasi Barat
oooooooooooooooo
Pustaha Mandailing (Surat Tulak - Tulak )
Oleh: Zainuddin P. Lubis
Kelompok etnis Mandailing mempunyai kitab tradisionial yang dinamakan pustaha. Surat Tulak Tulak (aksara tradisional Mandailing) dipergunakan untuk menulis pustaha.
Pustaha yang terbuat dari kulit kayu, atau lak-lak yang dilipat-lipat, dan ada juga yang terbuat dari satu ruas atau beberapa ruas bambu.
Pustaha yang terbuat dari kulit kayu yang dilipat-lipat biasanya berisi mantra-mantra dan cara¬cara penyembuhan tradisional, ada juga yang berisi ilmu perbintangan (semacam ilmu astrologi), ilmu meramal, dan ilmu-ilmu gaib. Sedangkan pustaha yang terbuat dari bambu satu ruas atau lebih, biasanya berisi tarombo atau silsilah keluarga.
Menurut Harry Parkin, dalam bukunya yang berjudul Batak Fruit of Hindu Thought (1978 hal, 102) tanggal yang tercatat sebagai tanggal pertama kali pustaha didapat seorang kolektor merupakan satu-satunya bukti mengenai usia pustaha. Alexander Hall menyerahkan satu pustaha kepada British Museum pada 18 Mei 1746. Itulah pustaha tertua yang pernah dikenal. Dalam buku yang sama Harry Parkin juga menjelaskan bahwa gaya bahasa yang digunakan dalam menulis pustaha dinamakan hata ni poda (ragam bahasa nasehat). Hal ini berarti semua pustaha (yang dimiliki berbagai kelompok etnis di Sumatera Utara, seperti, Angkola Toba, Simalungun, Karo, dan Fakfak) menggunakan gaya bahasa yang serupa.
Menurut Voarhoeve, gaya bahasa tersebut merupakan satu ragam bahasa kuno dari Selatan (Mandailing). Pustaha dari daerah lain, seperti Toba, Simalungun, Karo, dan Fakfak, tidak ditulis dengan bahasa yang murni kelompok- kelompok etnis tersebut, tapi ditulis dengan ragam hata poda yang dicampur dengan bahasa etnis yang bersangkutan.
Fakta yang demikian ini men¬dukung kesimpulan yang dicapai sebagai hasil perbandingan tu¬lisan-tulisan dari berbagai idiom bahwa bahasa yang dipergunakan menulis pustaha mendapatkan ak¬saranya dari Selatan (Mandailing). Ragam bahasa poda terkait dengan ilmu-ilmu gaib para datu yang menghadirkan berbagai problema linguistik. Masing-masing datu mempunyai jargon atau sistem singkatan bahasanya sendiri.
Masing-masing ilmu gaib mempunyai terminologinya sendiri yang tidak digunakan dalam bahasa sehari-hari, oleh karena itu tidak dipahami secara umum. Biasanya hanya datuyang bertanggungjawab atas penulisan pustaha, dan yang dapat memberikan suatu penjelasan yang penuh dan jelas tentang isi pustaha.
Suatu perbandingan mengenai aksara yang punya persamaan yang digunakan untuk menulis pustaha, bersama dengan fakta bahwa bahasa poda merupakan ragam bahasa kuno dari Selatan (Mandailing) memberikan petunjuk satu pola perkembangan dari Selatan ke arah Utara. Isi pustaha menunjukkan rasa tertarik yang jelas terhadap konsep megicoriligious (konsep sihir-re¬ligius).
Forum bertujuan berbagi pikiran ide dan pandang pandangan mengenai Mandailing khususnya bahasa mandailing yang diperuntukkan bagi mereka yang keturunan Mandailing yang berada dijakarta, maupun daerah lain diindonesia dan juga dimancanegara.
Adat budaya yang selama ini terpendam mengajak semua kalangan untuk melestarikan budaya dan bahasa mandailing untuk mencari atau mencaritahu kekayaan bahasa mandailing yang selama ini mungkin saja kita kurang memahami..
Semoga apa yang menjadi pemikiran ini akan menjadi pemersatu dan memajukan masyarakat Mandailing dan keturunannya....
Horasss.... Horasss....
Jakarta, 14 Juni 2009
Damora Lubis
Pembina / Pendiri
Marwan Dalimunthe
Pengurus
Sjaiful A. Rangkuty
Pembina
Bahasamandailing@gmail.com
Jl. Raya Bintara No. 10 Jaksampurna, Bekasi Barat
oooooooooooooooo
Pustaha Mandailing (Surat Tulak - Tulak )
Oleh: Zainuddin P. Lubis
Kelompok etnis Mandailing mempunyai kitab tradisionial yang dinamakan pustaha. Surat Tulak Tulak (aksara tradisional Mandailing) dipergunakan untuk menulis pustaha.
Pustaha yang terbuat dari kulit kayu, atau lak-lak yang dilipat-lipat, dan ada juga yang terbuat dari satu ruas atau beberapa ruas bambu.
Pustaha yang terbuat dari kulit kayu yang dilipat-lipat biasanya berisi mantra-mantra dan cara¬cara penyembuhan tradisional, ada juga yang berisi ilmu perbintangan (semacam ilmu astrologi), ilmu meramal, dan ilmu-ilmu gaib. Sedangkan pustaha yang terbuat dari bambu satu ruas atau lebih, biasanya berisi tarombo atau silsilah keluarga.
Menurut Harry Parkin, dalam bukunya yang berjudul Batak Fruit of Hindu Thought (1978 hal, 102) tanggal yang tercatat sebagai tanggal pertama kali pustaha didapat seorang kolektor merupakan satu-satunya bukti mengenai usia pustaha. Alexander Hall menyerahkan satu pustaha kepada British Museum pada 18 Mei 1746. Itulah pustaha tertua yang pernah dikenal. Dalam buku yang sama Harry Parkin juga menjelaskan bahwa gaya bahasa yang digunakan dalam menulis pustaha dinamakan hata ni poda (ragam bahasa nasehat). Hal ini berarti semua pustaha (yang dimiliki berbagai kelompok etnis di Sumatera Utara, seperti, Angkola Toba, Simalungun, Karo, dan Fakfak) menggunakan gaya bahasa yang serupa.
Menurut Voarhoeve, gaya bahasa tersebut merupakan satu ragam bahasa kuno dari Selatan (Mandailing). Pustaha dari daerah lain, seperti Toba, Simalungun, Karo, dan Fakfak, tidak ditulis dengan bahasa yang murni kelompok- kelompok etnis tersebut, tapi ditulis dengan ragam hata poda yang dicampur dengan bahasa etnis yang bersangkutan.
Fakta yang demikian ini men¬dukung kesimpulan yang dicapai sebagai hasil perbandingan tu¬lisan-tulisan dari berbagai idiom bahwa bahasa yang dipergunakan menulis pustaha mendapatkan ak¬saranya dari Selatan (Mandailing). Ragam bahasa poda terkait dengan ilmu-ilmu gaib para datu yang menghadirkan berbagai problema linguistik. Masing-masing datu mempunyai jargon atau sistem singkatan bahasanya sendiri.
Masing-masing ilmu gaib mempunyai terminologinya sendiri yang tidak digunakan dalam bahasa sehari-hari, oleh karena itu tidak dipahami secara umum. Biasanya hanya datuyang bertanggungjawab atas penulisan pustaha, dan yang dapat memberikan suatu penjelasan yang penuh dan jelas tentang isi pustaha.
Suatu perbandingan mengenai aksara yang punya persamaan yang digunakan untuk menulis pustaha, bersama dengan fakta bahwa bahasa poda merupakan ragam bahasa kuno dari Selatan (Mandailing) memberikan petunjuk satu pola perkembangan dari Selatan ke arah Utara. Isi pustaha menunjukkan rasa tertarik yang jelas terhadap konsep megicoriligious (konsep sihir-re¬ligius).
Pustaha Mandailing
Kelompok etnis Mandailing mempunyai kitab tradisionial yang dinamakan pustaha. Surat Tulak Tulak (aksara tradisional Mandailing) dipergunakan untuk menulis pustaha.
Pustaha yang terbuat dari kulit kayu, atau lak-lak yang dilipat-lipat, dan ada juga yang terbuat dari satu ruas atau beberapa ruas bambu.
Pustaha yang terbuat dari kulit kayu yang dilipat-lipat biasanya berisi mantra-mantra dan cara¬cara penyembuhan tradisional, ada juga yang berisi ilmu perbintangan (semacam ilmu astrologi), ilmu meramal, dan ilmu-ilmu gaib. Sedangkan pustaha yang terbuat dari bambu satu ruas atau lebih, biasanya berisi tarombo atau silsilah keluarga.
Menurut Harry Parkin, dalam bukunya yang berjudul Batak Fruit of Hindu Thought (1978 hal, 102) tanggal yang tercatat sebagai tanggal pertama kali pustaha didapat seorang kolektor merupakan satu-satunya bukti mengenai usia pustaha. Alexander Hall menyerahkan satu pustaha kepada British Museum pada 18 Mei 1746. Itulah pustaha tertua yang pernah dikenal. Dalam buku yang sama Harry Parkin juga menjelaskan bahwa gaya bahasa yang digunakan dalam menulis pustaha dinamakan hata ni poda (ragam bahasa nasehat). Hal ini berarti semua pustaha (yang dimiliki berbagai kelompok etnis di Sumatera Utara, seperti, Angkola Toba, Simalungun, Karo, dan Fakfak) menggunakan gaya bahasa yang serupa.
Menurut Voarhoeve, gaya bahasa tersebut merupakan satu ragam bahasa kuno dari Selatan (Mandailing). Pustaha dari daerah lain, seperti Toba, Simalungun, Karo, dan Fakfak, tidak ditulis dengan bahasa yang murni kelompok- kelompok etnis tersebut, tapi ditulis dengan ragam hata poda yang dicampur dengan bahasa etnis yang bersangkutan.
Fakta yang demikian ini men¬dukung kesimpulan yang dicapai sebagai hasil perbandingan tu¬lisan-tulisan dari berbagai idiom bahwa bahasa yang dipergunakan menulis pustaha mendapatkan ak¬saranya dari Selatan (Mandailing). Ragam bahasa poda terkait dengan ilmu-ilmu gaib para datu yang menghadirkan berbagai problema linguistik. Masing-masing datu mempunyai jargon atau sistem singkatan bahasanya sendiri.
Masing-masing ilmu gaib mempunyai terminologinya sendiri yang tidak digunakan dalam bahasa sehari-hari, oleh karena itu tidak dipahami secara umum. Biasanya hanya datuyang bertanggungjawab atas penulisan pustaha, dan yang dapat memberikan suatu penjelasan yang penuh dan jelas tentang isi pustaha.
Suatu perbandingan mengenai aksara yang punya persamaan yang digunakan untuk menulis pustaha, bersama dengan fakta bahwa bahasa poda merupakan ragam bahasa kuno dari Selatan (Mandailing) memberikan petunjuk satu pola perkembangan dari Selatan ke arah Utara. Isi pustaha menunjukkan rasa tertarik yang jelas terhadap konsep megicoriligious (konsep sihir-re¬ligius).
Pustaha yang terbuat dari kulit kayu, atau lak-lak yang dilipat-lipat, dan ada juga yang terbuat dari satu ruas atau beberapa ruas bambu.
Pustaha yang terbuat dari kulit kayu yang dilipat-lipat biasanya berisi mantra-mantra dan cara¬cara penyembuhan tradisional, ada juga yang berisi ilmu perbintangan (semacam ilmu astrologi), ilmu meramal, dan ilmu-ilmu gaib. Sedangkan pustaha yang terbuat dari bambu satu ruas atau lebih, biasanya berisi tarombo atau silsilah keluarga.
Menurut Harry Parkin, dalam bukunya yang berjudul Batak Fruit of Hindu Thought (1978 hal, 102) tanggal yang tercatat sebagai tanggal pertama kali pustaha didapat seorang kolektor merupakan satu-satunya bukti mengenai usia pustaha. Alexander Hall menyerahkan satu pustaha kepada British Museum pada 18 Mei 1746. Itulah pustaha tertua yang pernah dikenal. Dalam buku yang sama Harry Parkin juga menjelaskan bahwa gaya bahasa yang digunakan dalam menulis pustaha dinamakan hata ni poda (ragam bahasa nasehat). Hal ini berarti semua pustaha (yang dimiliki berbagai kelompok etnis di Sumatera Utara, seperti, Angkola Toba, Simalungun, Karo, dan Fakfak) menggunakan gaya bahasa yang serupa.
Menurut Voarhoeve, gaya bahasa tersebut merupakan satu ragam bahasa kuno dari Selatan (Mandailing). Pustaha dari daerah lain, seperti Toba, Simalungun, Karo, dan Fakfak, tidak ditulis dengan bahasa yang murni kelompok- kelompok etnis tersebut, tapi ditulis dengan ragam hata poda yang dicampur dengan bahasa etnis yang bersangkutan.
Fakta yang demikian ini men¬dukung kesimpulan yang dicapai sebagai hasil perbandingan tu¬lisan-tulisan dari berbagai idiom bahwa bahasa yang dipergunakan menulis pustaha mendapatkan ak¬saranya dari Selatan (Mandailing). Ragam bahasa poda terkait dengan ilmu-ilmu gaib para datu yang menghadirkan berbagai problema linguistik. Masing-masing datu mempunyai jargon atau sistem singkatan bahasanya sendiri.
Masing-masing ilmu gaib mempunyai terminologinya sendiri yang tidak digunakan dalam bahasa sehari-hari, oleh karena itu tidak dipahami secara umum. Biasanya hanya datuyang bertanggungjawab atas penulisan pustaha, dan yang dapat memberikan suatu penjelasan yang penuh dan jelas tentang isi pustaha.
Suatu perbandingan mengenai aksara yang punya persamaan yang digunakan untuk menulis pustaha, bersama dengan fakta bahwa bahasa poda merupakan ragam bahasa kuno dari Selatan (Mandailing) memberikan petunjuk satu pola perkembangan dari Selatan ke arah Utara. Isi pustaha menunjukkan rasa tertarik yang jelas terhadap konsep megicoriligious (konsep sihir-re¬ligius).
Subscribe to:
Posts (Atom)
.jpg)